Halaman

MATERI KULIAH

Kamis, 31 Januari 2013

TEACHERPRENEUR


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Saat ini perekonomian Indonesia memasuki masa yang sangat sulit. Banyaknya pengangguran baik dari kalangan yang tidak memiliki keterampilan dan tidak berpendidikan maupun perguruan karena pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah, ataupun karena krisis ekonomi yang berkepanjangan, sehingga tidak seimbang antara pertambahan tenaga kerja baru dengan ketersediaan lapangan kerja baru (Saiman, 2009).
Data profil penduduk indonesia pada tahun 2006: total penduduk Indonesia bertambah 230 juta orang dengan kondisi sosial ekonomi 12% (27,6 juta orang) ekonomi atas, 40% (92 juta orang) ekonomi menengah, dan 48% (110,4 juta orang) golongan ekonomi bawah. Dari total 230 juta orang tersebut pengangguran mencapai lebih dari 39,8 juta sampai dengan 55%  ditambah 100 juta orang penganggur.
Bank Dunia melansir bahwa kemiskinan di Indonesia tahun 2007 mencapai 49% dari total penduduk, pengangguran terbuka mencapai 10,6% (12,7 juta) dan setengah pengangguran 35,2% (38,3 juta). Target pemeritah yang disusun pada tahun 2007 sampai 2009 akan mencetak pertumuhan ekonomi sampai 7% dan hasilnya tidak mampu menyelesaikan persoalan pengangguran dan kemiskinan penduduk Indonesia secara signifikan (Sakrenas, BPS 2007). Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh BPS periode Agustus 2010 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,14% dari total jumlah angkatan kerja yang sebanyak 116,53 juta orang. Artinya, masih ada 8,32 juta penduduk yang menganggur (Jawa Pos/2/12/2010).
Republika Hari Kamis (18/06) mengangkat berita tentang jumlah kenaikan tingkat pengangguran dari kalangan sarjana. Dilaporkan bahwa lebih dari 900 ribu atau hampir satu juta sarjana di Indonesia pada tahun ini menganggur. Mereka berasal dari 2.900 perguruan tinggi dengan berbagai disiplin ilmu. ”Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 740 ribu sarjana. Tiap tahun, rata-rata 20 persen lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran,” ungkap salah seorang sumber kepada wartawan Republika. Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Fasli Jalal, membenarkan tingginya jumlah sarjana yang menganggur. Ia menyebutkan sekitar 1,1 juta penganggur terdidik pada periode Februari-Agustus 2008. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik. Belum ditambah pengangguran lulusan diploma (D-1, D-2, D-3) terus meningkat. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57%.
 Rendahnya pekerja di tingkat perguruan tinggi disebabkan karena kurang optimalnya implementasi pendidikan Soft Skill. Pendidikan soft skill adalah pendidikan yang mengutamakan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill) dan kemampuan mengatur dirinya sendiri (Yuniawati,2009). Berdasarkan hasil penelitian yang di paparkan oleh Admin (2009) dalam artikelnya mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill yang mencakup kemampuan berwirauasaha.
Dalam pandangan Husaini Usman (2008), jiwa kewirausahaan sangat efektif jika ditanamkan melalui bangku pendidikan. Mengacu pada usaha pemerintah dalam penumbuhan iklim usaha yang dituangkan pada Pasal 7 UU No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (MKMA) yang salah satu isinya menyatakan bahwa dunia usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif membantu menumbuhkan iklim usaha. Atas dasar inilah penulis mengangkat judul Teacherpreneur” Optimalisasi Pendidikan Soft Skill Enterpreneurship Bagi Calon Guru Indonesia.
Salah satu alasan penulis mengutamakan mahasiswa calon guru atau mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan dalam hal ini dikarenakan selama ini mahasiswa terlalu dituntut cerdas dari segi akademiknya saja sementara kurang mengembangkan kemampuan soft skills yang tertuang dalam emotional intelligence (EQ) dan spiritual intelligence (SQ).

1.2  Rumusan Masalah
a)      Bagaimanakah solusi dalam mengatasi masalah pengangguran di Indonesia ?
b)      Bagaimanakah cara Optimalisasi Pendidikan Soft Skill Enterpreneurship Bagi Calon Guru Indonesia ?
                                                                                              
1.3  Tujuan Penulisan
a)      Untuk menemukan solusi dalam mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.
b)      Untuk dapat mengoptimalkan Pendidikan Soft Skill Enterpreneurship Bagi Calon Guru Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah:
1.      Manfaat bagi Mahasiswa
a.       Melatih mahasiswa untuk menuangkan ide kreatif terkait dengan upaya mencari solusi alternatif permasalahan bangsa.
b.      Membantu mahasiswa untuk mencapai tahap kemandirian.
c.       Membantu mahasiswa mendapatkan solusi mengenai permasalahan keuangan.
d.      Membantu mahasiswa dalam meningkatkan jiwa kewiausahaan.
e.       Membantu mahasiswa dalam menemukan peluang berwirausaha
2.      Manfaat bagi Perguruan Tinggi
a.       Memberikan bahan diskusi atau kajian dan literatur baru terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
b.      Peningkatan peran perguruan tinggi terutama terkait dengan proses mencetak SDM berkualitas.
c.       Memudahkan perguruan tinggi dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.


3.      Manfaat bagi Masyarakat dan Negara
a.       Memberikan solusi alternatif yang kreatif terkait masalah terkini bangsa.
b.      Dapat dijadikan landasan bagi masyarakat dan negara untuk mulai memperluas lapangan kerja.

1.4 Batasan                          
            a) Sasaran pembelajaran di utamakan pada mahasiswa Fakultas Keguruan
    dan Ilmu Pendidikan
b) Ruang lingkup pembelajaran tertuju pada optimalisasi pendidikan  soft
    skill enterpreneurship di perguruan tinggi di Indonesia.


BAB II
KERANGKA PIKIR


Pejelasan dari bagan pola pikir diatas adalah sebagai berikut:
Dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan pasal 7 No 20 tahun 2008 tentang iklim usaha yang menuntut masyarakat untuk bisa berperan aktif dalam menumbuhkan iklim usaha tersebut termasuk di dalamnya adalah mahasiswa dan guru. Mengingat semakin meningkatnya angka pengangguran di Indonesia, perlu adanya optimalisasi pendidikan soft skill enterpreneurship di lembaga-lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi selaku wadah pendidikan yang akan mencetak lulusan SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing dalam dunia kerja. Dari lulusan perguruan tinggi diharapkan akan terlahirnya seorang teacherpreneur yang mampu mendirikan usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja baru. Sehingga dapat menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Terutama dikalangan lulusan sarjana kependidikan.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Entrepreneur, Teacherpreneur dan Enterpreneurship
            Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan merupakan SDM yang harus dijaga dan ditingkatkan kualitasnaya. Selama ini citra seorang guru hanya sebatas pahlawan tanpa tanda jasa yang hanya mengemban tugas sebagai karyawan penyalur ilmu pengetahuan semetara tidak mempunyai keahlian menciptakan lapangan kerja sendiri (Teacherpreneur). Teacherpreneur adalah perpaduan dari kata teacher (guru) dan enterpreneur (wirausahawan). Jadi teacherpreneur adalah seorang guru yang selain mengajar dia juga mempunyai kemampuan berwirausaha. Sedangkan proses dalam berwirausaha dinamakan enterpreneurship (berkewirausahan).
             Enterpreneur merupakan seseorang yang memutuskan untuk memulai  suatu bisnis, memperluas suatu perusahaan, membeli perusahaan yang sudah ada, memproduksi suatu produk baru, atau menawarkan suatu jasa baru, serta merupakan manager dan penyandang risiko (Arlini, 2006). Sedangkan definisi enterpreneur yang paparkan oleh David (1996) adalah seorang yang mengorganisasikan dan mengarahkan usaha baru. Seorang guru yang memiliki jiwa sebagai seorang enterpreneur disebut teacherpreneur.
             Usaha yang dilakukan oleh seorang guru untuk menjadi teachpreneur disebut enterpreneurship. John. J. Kao (1993) mendefinisikan enterpreneurship sebagai berikut: enterpreneurship adalah usaha untuk menciptakan nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis, manajemen pengambilan risiko yang tepat, dan melalui keterampilan komunikasi, dan manajemen untuk mobilisasi manusia, uang, dan bahan-bahan buku atau sumber daya lain yang diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana dengan baik. Pengertian enterpreneurship menurut Robert D. Hisrich et all. (2005) adalah proses dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan. Kekayaan diciptakan oleh individu yang berani menggambil risiko utama dengan syarat-syarat kewajaran, waktu, dan atau komitmen karier atau penyediaan nilai untuk berbagai barang dan jasa.
            Adapun manfaat berkewirausahaan antara lain; a) memberikan peluang dalam mengendalikan nasib sendiri, b) memberi peluang melakukan perubahan, c)  memberi peluang untuk pencapai potensi diri sepenuhnya, d) memiliki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal mungkin, e) memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat (Saiman, 2009).

3.2.  Profil Enterpreneurship
            Beberapa kualitas profil wirausaha agar berhasil menurut David E. Rye (1996) diantaranya :
      1)     Seorang yang berprestasi tinggi
Seorang wirausahawan dituntut berprestasi yang tinggi, maka perlu bekerja sama dengan para professional dan bermitra kepada para ahli terutama dalam memecahkan masalah-masalah yang menantang. Dalam setiap langkah harus memikirkan pandangan jangka panjang bisnisnya atau harus dapat menentukan visi dan misi bisnisnya sendiri.
      2)     Mengambil risiko
Seorang wirausahawan tidak boleh takut menghadapi atau memukul risiko, namun tidak sebagai pengambil risiko yang rendah maupun yang terlalu tinggi.
     3)     Pemecah masalah
Seorang wirausahawan harus pandai mengidentifikasi setiap masalah dan sekaligus dapat menyelesaikannya dengan efisien dan efektif atas masalah yang dihadapinya.
     4)     Pencari status
Para wirausahawan lebih menyukai apabila bisnis yang dibangunnya dipuji dan berhasil.
     5)     Memiliki tingkat cadangan energi yang tinggi
Yaitu dituntut untuk sehat jasmani dan rohani serta dapat bekerja melebihi dari tuntutan jam normal.
     6)     Memiliki rasa percaya diri yang tinggi, menghindari ikatan emosi dan memerlukan kepuasan pribadi.
          
            3.3  .  Karakter Seorang Enterpreneur
Pertama, action oriented. Bukan tipe penunda atau membiarkan sesuatu kesempatan berlalu begitu saja. Dia tidak menunggu sampai segala sesuatunya jelas dulu. Seorang enterpreneur adalah orang yang ingin segera bertindak, sekalipun situasinya tidak pasti. Kedua, berfikir simpel. Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks, mereka selalu belajar menyederhanakannya. Sekalipun berilmu tinggi, mereka bukanlah manusia yang menghendaki pekerjaan yang kompleks, mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap. Ketiga, mereka selalu mencari peluang-peluang baru.
            Pola pikir seorang enterpreneur menonjol dalam banyak hal. Seorang enterpreneur berkarakter produktif, juga selalu berusaha untuk mencari ide dan cara baru untuk meningkatkan utilitas sumber daya secara efisien. Dia selalu mencari alternatif bila sumber daya yang ada terbatas. Seorang enterpreneur cenderung menjadi job creator daripada sekadar job seeker. Semua karakter tersebut disebabkan oleh jumlah total pola pikir positif, kreatif, keuangan, dan pola pikir produktif yang dimilikinya (Alma, 2005). Semangat berkewirausahaan yang perlu dikembangkan dan dibudayakan oleh masyarakat baik pengusaha, mahasiswa maupu sarjana antara lain: kemauan untuk berkarya dengan semangat mandiri, mampu membuat keputusan yang tepat dan berani mengambil risiko, kreatif dan inovatif, tekun, teliti dan produktif, berkarya dengan semangat kebersamaan dan etika bisnis yang sehat.
            Dari beberapa semangat kewirausahaan tersebut, yang dibutuhkan oleh seorang wirausaha Indonesia adalah disamping berkarya dengan semangat mandiri, diperlukan juga berkarya dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang sejati. Dalam hal ini dituntut bahwa seorang wirausahawan tidak hanya memikirkan bisnisnya sendiri, melainkan juga dituntut untuk dapat berkarya dengan penuh kebersamaan. Dengan kata lain, tidak boleh saling menjatuhkan satu sama lain, terutama yang bisnisnya sejenis, melainkan harus bersaing secara sehat, sehingga pada akhirnya akan mendorong munculnya wirausahawan-wirausahawa baru yang tangguh, kreatif, inovatif, prodiktif, namun tetap menjaga karakter bahasa indonesia yang ramah, gotong royong, persauudraan sejati, dan tidak melanggar etika bisnis (Dinsi, 2006).

3.4 Teacherpreneur sebagai Alternatif dari Masalah Pengangguran di Idonesia.
            Teacherpreneur merupakan ide kreatif yang dapat memberikan solusi dari masalah pengangguran di indonesia yang setiap tahunnya semakin meningkat. Yang mana dalam hal ini seorang guru dituntut untuk lebih kreatif, inovatif dan produktif atau mampu mendirikan usaha sendiri. Dengan memiliki usaha sendiri dapat memberikan kebebasan dan peluang bagi teacherpreneur untuk mencapai tujuan hidupnya. Seorang teacherpreneur akan mencoba memenangkan hidup mereka dan memungkinkan mereka untuk memanfaatkan bisnisnya guna mewujudkan cita-citanya. Seorang teacherpreneur akan melakukan berbagai perubahan yang menurut mereka sangat penting.

3.5 Optimalisasi Pendidikan Soft Skill Enterpreneurship
Untuk mencetak seorang teacherpreneur dapat dilakukan dengan optimalisasi pendidikan soft skill enterpreneurship di perguruan tinggi khususnya bagi mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan kewirausahaan sebagai kurikulum baru pada perguruan tinggi yang belum menerapkan dan mengoptimalkan pada beberapa perguruan tinggi yang sudah ada. Pokok bahasan yang mungkin masuk ke dalam mata kuliah ini tentang konsep dasar dan motivasi berwirauusaha, prinsip berkewirausahaan, strategi menangkap peluang usaha, membangun ide kreatif dan inovatif, strategi mencapai keunggulan bersaing, etika berwirausaha dan pokok bahasan lain yang relevan. Optimalisasi ini juga dapat dilakukan dengan mengadakan forum enterpreneur sehingga harapanya pengetahuan tentang Skill Enterpreneurship akan semakin meningkat. Disamping itu itu juga dapat dilakukan diskusi rutin dan pelatihan-pelatihan tentang moivasi dan trik menjadi serang teacherpreneur.



BAB 1V
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
            Dari data yang dipaparkan penulis dapat disimpulkan bahwa.
1)       Banyaknya pengagguran lulusan sarjana pendidikan disebabkan kurangnya kualitas SDM di tingkat peguruan tinggi sebagai dampak dari rendahnya pendidikan soft skill enterpreneur yang seharusnya sudah tertanam pada mahasiswa sejak masih berada di perkuliahan.
2)       Melalui pendidikan soft skill enterpreneur mahasiswa dituntut untuk senantiasa berkreasi, memunculkan ide baru dan tindakan baru untuk manjadi seorang teacherpreneur.  

4.5. SARAN
            Disarankan kepada mahasiswa dan dosen perguruan tinggi untuk ikut serta  dalam mensukseskan program kreativitas mahasiswa yang diselenggarakan oleh DIKTI. Disarankan pendidikam soft skill enterpreneur tidak hanya diberikan kepada kalangan perguruan tinggi saja melainkan pendidikan ini juga dapat diterapkan disekolah-sekolah  SMA dan sederajat. Disarankan bagi mahasiswa untuk dapat berperan aktif dalam meningkatkan kwalitas pendidikan melalui pengembangan usaha. 

DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari. 2005. Kewirausahaan: Untuk Mahasiswa dan Umum. Bandung:
Alfabeta
Arlini, Silvia Mila dan Barnadetta Dwi Suatmi. 2006. Makro ekonomi Indonesia:             
Perkembangan Terkini dan Prospek 2007. Lembaga Penelitian Ekonomi Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII), LPE-IBII.
Dinsi, Valentio. 2005. Membangkitkan Enterpreneur Power : Sebuah Jalan
Menuju Kebebasan Finansial. Jakarta LET’S GO Indonesia.
Hisrich, Robert D., dan Michael P. 1998. Enterpreneurship. Boston, MA: Irwin
Internasional. Inc.
Hisrich, Robert D., dan Shepherd Dean A. 2005. Enterpreneurship. Edisi
Keenam. Boston, USA: McGraw Hill.
Jawa pos. “ 83,2 Juta Penduduk yang Menganggur”. Kamis, 2 Desember 2010.
Kasali, Rhenald, dkk. 2010. Modul Kewirausahaan: untuk Program Strata Satu.
Bandung: PT Mizan Publika.
Saiman, Leonardus. 2000. “ Enterpreneurship/Kewirausahaan”. Diktat STIE
Nusantara.
Saiman, Leonardus. 2009. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentaang UKMM. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar