BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini perekonomian
Indonesia memasuki masa yang sangat sulit. Banyaknya pengangguran baik dari
kalangan yang tidak memiliki keterampilan dan tidak berpendidikan maupun
perguruan karena pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah, ataupun karena krisis ekonomi
yang berkepanjangan, sehingga tidak seimbang antara pertambahan tenaga kerja
baru dengan ketersediaan lapangan kerja baru (Saiman, 2009).
Data profil penduduk
indonesia pada tahun 2006: total penduduk Indonesia bertambah 230 juta orang
dengan kondisi sosial ekonomi 12% (27,6 juta orang) ekonomi atas, 40% (92 juta
orang) ekonomi menengah, dan 48% (110,4 juta orang) golongan ekonomi bawah.
Dari total 230 juta orang tersebut pengangguran mencapai lebih dari 39,8 juta sampai
dengan 55% ditambah 100 juta orang
penganggur.
Bank Dunia melansir
bahwa kemiskinan di Indonesia tahun 2007 mencapai 49% dari total penduduk,
pengangguran terbuka mencapai 10,6% (12,7 juta) dan setengah pengangguran 35,2%
(38,3 juta). Target pemeritah yang disusun pada tahun 2007 sampai 2009 akan
mencetak pertumuhan ekonomi sampai 7% dan hasilnya tidak mampu menyelesaikan
persoalan pengangguran dan kemiskinan penduduk Indonesia secara signifikan
(Sakrenas, BPS 2007). Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh BPS periode
Agustus 2010 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai
7,14% dari total jumlah angkatan kerja yang sebanyak 116,53 juta orang.
Artinya, masih ada 8,32 juta penduduk yang menganggur (Jawa Pos/2/12/2010).
Republika Hari Kamis
(18/06) mengangkat berita tentang jumlah kenaikan tingkat pengangguran dari
kalangan sarjana. Dilaporkan bahwa lebih dari 900 ribu atau hampir satu juta
sarjana di Indonesia pada tahun ini menganggur. Mereka berasal dari 2.900
perguruan tinggi dengan berbagai disiplin ilmu. ”Jumlah tersebut meningkat dari
tahun sebelumnya yang hanya 740 ribu sarjana. Tiap tahun, rata-rata 20 persen
lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran,” ungkap salah seorang sumber
kepada wartawan Republika. Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen
Pendidikan Nasional (Depdiknas), Fasli Jalal, membenarkan tingginya jumlah
sarjana yang menganggur. Ia menyebutkan sekitar 1,1 juta penganggur terdidik
pada periode Februari-Agustus 2008. Jika setiap tahun jumlah
kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta
pengangguran terdidik. Belum ditambah pengangguran lulusan diploma (D-1, D-2,
D-3) terus meningkat. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja tercatat peningkatan
sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57%.
Rendahnya pekerja di tingkat perguruan tinggi disebabkan karena kurang optimalnya
implementasi pendidikan Soft Skill.
Pendidikan soft skill adalah
pendidikan yang mengutamakan kemampuan seseorang dalam
berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill) dan kemampuan mengatur
dirinya sendiri (Yuniawati,2009). Berdasarkan hasil penelitian yang di paparkan
oleh Admin (2009) dalam artikelnya mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan
sekitar 20% oleh hard skill dan
sisanya 80% oleh soft skill yang mencakup kemampuan
berwirauasaha.
Dalam pandangan Husaini Usman (2008),
jiwa kewirausahaan sangat efektif jika ditanamkan melalui bangku pendidikan. Mengacu pada usaha pemerintah dalam
penumbuhan iklim usaha yang dituangkan pada Pasal 7 UU No. 20 tahun 2008 tentang
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (MKMA) yang salah satu isinya menyatakan bahwa
dunia usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif membantu menumbuhkan
iklim usaha. Atas dasar inilah penulis mengangkat
judul “Teacherpreneur” Optimalisasi
Pendidikan Soft Skill Enterpreneurship Bagi Calon Guru Indonesia.
Salah satu alasan penulis mengutamakan mahasiswa calon guru atau mahasiswa
fakultas keguruan dan ilmu pendidikan dalam hal ini dikarenakan selama ini
mahasiswa terlalu dituntut cerdas dari segi akademiknya saja sementara kurang mengembangkan kemampuan soft skills yang tertuang dalam emotional
intelligence (EQ) dan spiritual intelligence (SQ).
1.2 Rumusan Masalah
a)
Bagaimanakah
solusi dalam mengatasi masalah pengangguran di Indonesia ?
b) Bagaimanakah cara
Optimalisasi Pendidikan Soft
Skill Enterpreneurship Bagi Calon
Guru Indonesia ?
1.3 Tujuan Penulisan
a) Untuk menemukan solusi dalam mengatasi masalah
pengangguran di Indonesia.
b) Untuk dapat mengoptimalkan Pendidikan Soft Skill Enterpreneurship Bagi Calon Guru Indonesia.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini
adalah:
1. Manfaat bagi
Mahasiswa
a. Melatih
mahasiswa untuk menuangkan ide kreatif terkait dengan upaya mencari solusi
alternatif permasalahan bangsa.
b. Membantu
mahasiswa untuk mencapai tahap kemandirian.
c. Membantu
mahasiswa mendapatkan solusi mengenai permasalahan keuangan.
d. Membantu
mahasiswa dalam meningkatkan jiwa kewiausahaan.
e. Membantu
mahasiswa dalam menemukan peluang berwirausaha
2. Manfaat
bagi Perguruan Tinggi
a. Memberikan bahan diskusi atau kajian
dan literatur baru terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
b. Peningkatan
peran perguruan tinggi terutama terkait dengan proses mencetak SDM berkualitas.
c. Memudahkan
perguruan tinggi dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.
3. Manfaat
bagi Masyarakat dan Negara
a. Memberikan solusi alternatif yang
kreatif terkait masalah terkini bangsa.
b. Dapat
dijadikan landasan bagi masyarakat dan negara untuk mulai memperluas lapangan
kerja.
1.4 Batasan
a) Sasaran pembelajaran di utamakan pada mahasiswa Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan
b) Ruang lingkup pembelajaran tertuju
pada optimalisasi pendidikan soft
skill enterpreneurship di perguruan tinggi di Indonesia.
BAB II
KERANGKA
PIKIR
Pejelasan
dari bagan pola pikir diatas adalah sebagai berikut:
Dengan mengacu pada peraturan
perundang-undangan pasal 7 No 20 tahun 2008 tentang iklim usaha yang menuntut
masyarakat untuk bisa berperan aktif dalam menumbuhkan iklim usaha tersebut
termasuk di dalamnya adalah mahasiswa dan guru. Mengingat semakin meningkatnya
angka pengangguran di Indonesia, perlu adanya optimalisasi pendidikan soft skill enterpreneurship di
lembaga-lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi selaku wadah pendidikan
yang akan mencetak lulusan SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing dalam
dunia kerja. Dari lulusan perguruan tinggi diharapkan akan terlahirnya seorang teacherpreneur yang mampu mendirikan
usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja baru. Sehingga dapat menurunkan
angka pengangguran di Indonesia. Terutama dikalangan lulusan sarjana
kependidikan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Entrepreneur, Teacherpreneur dan Enterpreneurship
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan merupakan SDM yang harus
dijaga dan ditingkatkan kualitasnaya. Selama ini citra seorang guru hanya
sebatas pahlawan tanpa tanda jasa yang hanya mengemban tugas sebagai karyawan
penyalur ilmu pengetahuan semetara tidak mempunyai keahlian menciptakan
lapangan kerja sendiri (Teacherpreneur).
Teacherpreneur adalah perpaduan dari
kata teacher (guru) dan enterpreneur (wirausahawan). Jadi teacherpreneur adalah seorang guru yang selain
mengajar dia juga mempunyai kemampuan berwirausaha. Sedangkan proses dalam
berwirausaha dinamakan enterpreneurship (berkewirausahan).
Enterpreneur
merupakan seseorang yang memutuskan untuk memulai suatu bisnis, memperluas suatu perusahaan,
membeli perusahaan yang sudah ada, memproduksi suatu produk baru, atau
menawarkan suatu jasa baru, serta merupakan manager
dan penyandang risiko (Arlini, 2006). Sedangkan definisi enterpreneur yang paparkan oleh David (1996) adalah seorang yang
mengorganisasikan dan mengarahkan usaha baru. Seorang guru yang memiliki jiwa
sebagai seorang enterpreneur disebut teacherpreneur.
Usaha yang dilakukan oleh seorang guru untuk menjadi teachpreneur disebut enterpreneurship.
John. J. Kao (1993) mendefinisikan enterpreneurship
sebagai berikut: enterpreneurship adalah
usaha untuk menciptakan nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis, manajemen
pengambilan risiko yang tepat, dan melalui keterampilan komunikasi, dan
manajemen untuk mobilisasi manusia, uang, dan bahan-bahan buku atau sumber daya
lain yang diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana dengan baik.
Pengertian enterpreneurship menurut
Robert D. Hisrich et all. (2005)
adalah proses dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan. Kekayaan diciptakan
oleh individu yang berani menggambil risiko utama dengan syarat-syarat
kewajaran, waktu, dan atau komitmen karier atau penyediaan nilai untuk berbagai
barang dan jasa.
Adapun
manfaat berkewirausahaan antara lain; a) memberikan peluang dalam mengendalikan
nasib sendiri, b) memberi peluang melakukan perubahan, c) memberi peluang untuk pencapai potensi diri
sepenuhnya, d) memiliki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal mungkin, e)
memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat (Saiman, 2009).
3.2. Profil Enterpreneurship
Beberapa kualitas profil wirausaha
agar berhasil menurut David E. Rye (1996) diantaranya :
1)
Seorang yang berprestasi tinggi
Seorang
wirausahawan dituntut berprestasi yang tinggi, maka perlu bekerja sama dengan
para professional dan bermitra kepada para ahli terutama dalam memecahkan
masalah-masalah yang menantang. Dalam setiap langkah harus memikirkan pandangan
jangka panjang bisnisnya atau harus dapat menentukan visi dan misi bisnisnya
sendiri.
2)
Mengambil risiko
Seorang
wirausahawan tidak boleh takut menghadapi atau memukul risiko, namun tidak sebagai
pengambil risiko
yang rendah maupun yang terlalu tinggi.
3)
Pemecah masalah
Seorang
wirausahawan harus pandai mengidentifikasi setiap masalah dan sekaligus dapat
menyelesaikannya dengan efisien dan efektif atas masalah yang dihadapinya.
4)
Pencari status
5)
Memiliki tingkat cadangan
energi yang tinggi
Yaitu dituntut
untuk sehat jasmani dan rohani serta dapat bekerja melebihi dari tuntutan jam
normal.
6) Memiliki rasa percaya diri yang tinggi,
menghindari ikatan emosi dan memerlukan kepuasan pribadi.
3.3 . Karakter Seorang Enterpreneur
Pertama, action oriented.
Bukan tipe penunda atau membiarkan sesuatu kesempatan berlalu begitu saja. Dia
tidak menunggu sampai segala sesuatunya jelas dulu. Seorang enterpreneur adalah orang yang ingin segera bertindak, sekalipun situasinya
tidak pasti. Kedua, berfikir simpel. Sekalipun dunia telah berubah menjadi
sangat kompleks, mereka selalu belajar menyederhanakannya. Sekalipun berilmu
tinggi, mereka bukanlah manusia yang menghendaki pekerjaan yang kompleks,
mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu
secara bertahap. Ketiga, mereka selalu mencari peluang-peluang baru.
Pola pikir seorang enterpreneur
menonjol dalam banyak hal. Seorang enterpreneur
berkarakter produktif, juga selalu berusaha untuk mencari ide dan cara baru
untuk meningkatkan utilitas sumber daya secara efisien. Dia selalu mencari
alternatif bila sumber daya yang ada terbatas. Seorang enterpreneur cenderung menjadi job
creator daripada sekadar job seeker.
Semua karakter tersebut disebabkan oleh jumlah total pola pikir positif,
kreatif, keuangan, dan pola pikir produktif yang dimilikinya (Alma, 2005). Semangat
berkewirausahaan yang perlu dikembangkan dan dibudayakan oleh masyarakat baik
pengusaha, mahasiswa maupu sarjana antara lain: kemauan untuk berkarya dengan
semangat mandiri, mampu membuat keputusan yang tepat dan berani mengambil
risiko, kreatif dan inovatif, tekun, teliti dan produktif, berkarya dengan
semangat kebersamaan dan etika bisnis yang sehat.
Dari
beberapa semangat kewirausahaan tersebut, yang dibutuhkan oleh seorang
wirausaha Indonesia adalah disamping berkarya dengan semangat mandiri,
diperlukan juga berkarya dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang
sejati. Dalam hal ini dituntut bahwa seorang wirausahawan tidak hanya
memikirkan bisnisnya sendiri, melainkan juga dituntut untuk dapat berkarya
dengan penuh kebersamaan. Dengan kata lain, tidak boleh saling menjatuhkan satu
sama lain, terutama yang bisnisnya sejenis, melainkan harus bersaing secara
sehat, sehingga pada akhirnya akan mendorong munculnya wirausahawan-wirausahawa
baru yang tangguh, kreatif, inovatif, prodiktif, namun tetap menjaga karakter
bahasa indonesia yang ramah, gotong royong, persauudraan sejati, dan tidak
melanggar etika bisnis (Dinsi, 2006).
3.4 Teacherpreneur sebagai Alternatif dari
Masalah Pengangguran di Idonesia.
Teacherpreneur merupakan ide kreatif
yang dapat memberikan solusi dari masalah pengangguran di indonesia yang setiap
tahunnya semakin meningkat. Yang mana dalam hal ini seorang guru dituntut untuk
lebih kreatif, inovatif dan produktif atau mampu mendirikan usaha sendiri.
Dengan memiliki usaha sendiri dapat memberikan kebebasan dan peluang bagi teacherpreneur untuk mencapai tujuan
hidupnya. Seorang teacherpreneur akan
mencoba memenangkan hidup mereka dan memungkinkan mereka untuk memanfaatkan
bisnisnya guna mewujudkan cita-citanya. Seorang teacherpreneur akan melakukan berbagai perubahan yang menurut
mereka sangat penting.
3.5
Optimalisasi Pendidikan Soft Skill
Enterpreneurship
Untuk mencetak seorang teacherpreneur dapat dilakukan dengan
optimalisasi pendidikan soft skill
enterpreneurship di perguruan tinggi khususnya bagi mahasiswa fakultas
keguruan dan ilmu pendidikan. Hal ini
dapat dilakukan dengan memasukkan kewirausahaan sebagai kurikulum baru pada
perguruan tinggi yang belum menerapkan dan mengoptimalkan pada beberapa
perguruan tinggi yang sudah ada. Pokok bahasan yang mungkin masuk ke dalam mata
kuliah ini tentang konsep dasar dan motivasi berwirauusaha, prinsip
berkewirausahaan, strategi menangkap peluang usaha, membangun ide kreatif dan
inovatif, strategi mencapai keunggulan bersaing, etika berwirausaha dan pokok
bahasan lain yang relevan. Optimalisasi ini juga dapat dilakukan dengan
mengadakan forum enterpreneur
sehingga harapanya pengetahuan tentang Skill
Enterpreneurship akan semakin meningkat. Disamping itu itu juga dapat
dilakukan diskusi rutin dan pelatihan-pelatihan tentang moivasi dan trik
menjadi serang teacherpreneur.
BAB 1V
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dari data yang dipaparkan penulis dapat disimpulkan bahwa.
1) Banyaknya
pengagguran lulusan sarjana pendidikan disebabkan kurangnya kualitas SDM di
tingkat peguruan tinggi sebagai dampak dari rendahnya pendidikan soft skill enterpreneur yang seharusnya
sudah tertanam pada mahasiswa sejak masih berada di perkuliahan.
2) Melalui
pendidikan soft skill enterpreneur mahasiswa
dituntut untuk senantiasa berkreasi, memunculkan ide baru dan tindakan baru
untuk manjadi seorang teacherpreneur.
4.5. SARAN
Disarankan
kepada mahasiswa dan dosen perguruan tinggi untuk ikut serta dalam mensukseskan program kreativitas
mahasiswa yang diselenggarakan oleh DIKTI. Disarankan pendidikam soft skill enterpreneur tidak hanya
diberikan kepada kalangan perguruan tinggi saja melainkan pendidikan ini juga
dapat diterapkan disekolah-sekolah SMA
dan sederajat. Disarankan bagi mahasiswa untuk dapat berperan aktif dalam
meningkatkan kwalitas pendidikan melalui pengembangan usaha.
DAFTAR
PUSTAKA
Alma, Buchari. 2005. Kewirausahaan: Untuk Mahasiswa dan Umum. Bandung:
Alfabeta
Arlini, Silvia Mila dan Barnadetta Dwi Suatmi.
2006. Makro ekonomi Indonesia:
Perkembangan Terkini dan Prospek 2007. Lembaga Penelitian Ekonomi
Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII), LPE-IBII.
Dinsi, Valentio. 2005. Membangkitkan Enterpreneur Power : Sebuah Jalan
Menuju Kebebasan Finansial. Jakarta
LET’S GO Indonesia.
Hisrich, Robert D., dan Michael P. 1998. Enterpreneurship. Boston, MA: Irwin
Internasional. Inc.
Hisrich, Robert D., dan Shepherd Dean A. 2005. Enterpreneurship. Edisi
Keenam. Boston, USA: McGraw Hill.
Jawa pos.
“ 83,2 Juta Penduduk yang Menganggur”. Kamis, 2 Desember 2010.
Kasali, Rhenald, dkk. 2010. Modul Kewirausahaan: untuk Program Strata Satu.
Bandung: PT Mizan Publika.
Saiman, Leonardus. 2000. “ Enterpreneurship/Kewirausahaan”. Diktat STIE
Nusantara.
Saiman, Leonardus. 2009. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentaang UKMM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar