Halaman

MATERI KULIAH

Kamis, 31 Januari 2013

KONVERSI LIMBAH ORGANIK MENJADI BIOETANOL


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia saat ini mengalami krisis energi global. Terjadi ketidakseimbangan antara ketersediaan energi dengan peningkatan kebutuhan masyarakan akan energi setiap tahunnya. Berikut data terkait dengan penggunaan bahan bakar minyak oleh masyarakat dari tahun 2000-2006.
Tabel 1. Penggunaan bahan bakar minyak di indonesia tahun 2000-2006

Sumber: Ditjen migas, 2007
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Indonesia masih sangat tergantung pada bahan bakar minyak (BBM) sebagai sumber energi primer untuk memenuhi kebutuhan energinya. Seperti yang diketahui, Bahan Bakar Minyak (BBM) mengambil porsi 52% dalam kebutuhan energi nasional (Rama at, al., 2007).
Menurut Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dalam pidatonya pada tanggal 27 September 2005 menyatakan bahwa cadangan minyak Indonesia tinggal sekitar 0,5 persen dari cadangan minyak dunia, sedangkan cadangan gas sekitar 1,7 persen dari cadangan dunia. Diperkirakan 18 tahun yang akan datang minyak akan habis dan 50 tahun kemudian cadangan gas habis juga bila tidak ditemukan sumber baru dan yang lebih memprihatinkan, meski cadangan gas Indonesia hanya 1,7 persen dari cadangan gas dunia, negeri ini menjadi pengekspor gas bumi nomor satu di dunia dengan volume sekitar 25 juta ton per tahun (Kompas 8 September 2006).
Dengan kesadaran bahwa minyak bumi sebagai sumber utama bahan bakar di Indonesia semakin menipis, pengembangan sumber energi yang terbarukan merupakan suatu keharusan. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang berpotensi untuk dijadikan sebagai alternatif  pengganti bahan bakar minyak, dalam hal ini para peneliti telah mengembangkan bioetanol sebagai solusi untuk mengangtisipasi krisis energi.
Saat ini bioetanol yang dihasilkan menggunakan bahan pangan sebagai bahan dasar seperti ubi kayu, tebu, jagung, nipah dan lain-lain. Namun dari bahan baku tersebut dapat mengakibatkan kerisis pangan dalam negeri karena dalam pembuatan bioetanol membutuhkan bahan dasar dalam jumlah yang banyak.
Untuk itu perlu adanya bahan dasar pengganti, yang tidak beresiko pada krisis ketahanan pangan seperti pemanfaatan limbah organik. Selama ini limbah organik  di lingkungan rumah tangga,  restaurant, pasar baik yang ada di perkotaan maupun di pedesaan setiap hari semakin meningkat. Menurut data Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta tahun 2000, setiap hari timbunan sampah Jakarta mencapai 25.650 meter kubik, yang terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) sekitar 22.500 meter kubik. Sisanya, 3.150 meter kubik perhari tidak terangkut ke TPA (Direktur UNESCO, 2002).
Data tahun 2006 untuk kota malang, sampah tak terangkut hanya 160 meter kubik. Namun, tahun 2007 volume sampah tak terangkut meningkat sampai 3.240 meter kubik. Itu belum termasuk data 2008 dan 2009 hingga Juni.  Terlihat bahwa volume sampah tiap tahunnya semakin meningkat. Dari data tingginya jumlah pengguna energi di Indonesia khususnya di tingkat penggunaan bahan bakar minyak , maka solusi yang ditawarkan ialah gagasan berupa pemanfaatan  sampah organik sebagai bahan dasar utama  dalam pembuatan bioetanol.  
Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah solulusi dalam menghadapi krisis energi global?
2.      Bagaimanakah cara pemanfaatan limbah organik sebagai bahan dasar bioetanol dalam menghadapi krisis energi global?
Tujuan
            Berdasarkan rumusan masalah di atas akan dicapai tujuan sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui bagaimanakah solusi dalam menghadapi krisis energi global .
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah cara pemanfaatan limbah organik sebagai bahan dasar bioetanol dalam menghadapi krisis energi global.

Manfaat
            Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari tulisan ini, antara lain:
  1. Dapat dijadikan sebagai referensi baru terkait dengan solusi dari permasalahan krisis energi global.
  2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang penggunaan sampah organik sebagai bahan dasar bioetanol.
  3. Memberikan informasi tentang bagaimana langkah fermentasi sampah organik sampai mennghasilkan bioetanol yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakat minyak.


    TINJAUAN PUSTAKA

    Krisis Energi di Indonesia
    Krisis energi adalah kekurangan (atau peningkatan harga) dalam persediaan sumber daya energi ke ekonomi. Krisis ini biasanya menunjuk ke kekurangan minyak bumi, listrik, atau sumber daya alam lainnya. Krisis ini memiliki akibat pada ekonomi, dengan banyak resesi disebabkan oleh krisis energi dalam beberapa bentuk. Terutama, kenaikan biaya produksi listrik, yang menyebabkan naiknya biaya produksi. Bagi para konsumen, harga BBM untuk mobil dan kendaraan lainnya meningkat, menyebabkan pengurangan keyakinan dan pengeluaran konsumen.
    Populasi penduduk Indonesia mengalami pertumbuhan tinggi, yaitu masih di atas 1 persen per tahunnya. Sedangkan pertumbuhan ekonominya bisa meningkat antara 5 persen-6 persen. Pertumbuhan populasi masyarakat modern, perkembangan ekonomi dan teknologi akan membutuhkan energi lebih banyak. Berdasarkan hasil studi untuk tahun 2025 di Indonesia setelah dihitung batu bara, gas, dan sumber lain, kebutuhan energi listrik akan meningkat tahun 2000 sebanyak 29 gigawatt, tahun 2025 akan meningkat 100 gigawatt (Anonymous, 2011)
    Cadangan Minyak Indonesia yang terbukti menurut data Migas tahun 2009 adalah 4.303,1 MMSTB, dan cadangan potensial sebesar 3.695,39 MMSTB. Jika diasumsikan 50% cadangan potensial menjadi terbukti maka total cadangan yang mungkin diproduksi adalah 6.150,8 MMSTB. Jumlah cadangan terbukti terus menurun sejak tahun 1980 yang diawali dengan angka sebesar 9.500 MMSTB. Untuk cadangan Gas Indonesia juga mengalami penurunan, data migas tahun 2009 adalah 107,34 TSCF, dan cadangan potensial sebesar 52,29 TSCF. Jika diasumsikan 50% cadangan potensial menjadi terbukti maka total cadangan yang mungkin diproduksi adalah 133,49 TSCF. Cadangan terbukti meningkat sejak dari tahun 1980 yang hanya pada angka 25 TSCF (Trillion Standard Cubic Feet) (Anonymous, 2011)
    Menurut sumber United States Energy Information Administration, laju konsumsi minyak mentah dan gas alam Indonesia rata-rata bertambah 4,36% dan 6,98% tiap tahunnya. Jika diekstrapolasikan ke tahun 2020, maka Indonesia akan mengkonsumsi minyak mentah dan gas alam sebanyak 2.195.000 barel per hari dan 2.063 BSCF per tahun. Laju konsumsi ini meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 2,5 % per tahun atau berdasarkan data BPS populas  diperkirakan meningkat dari 237,6 juta pada tahun 2010, menjadi 304 juta pada tahun 2020.
    Menurut data yang dikeluarkan KLH, setiap 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metan. Sementara itu, dengan jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan mencapai 500 juta kg/hari atau 190.000 ton/tahun. Ini berarti gas metan yang dihasilkan mencapai 9.500 ton.

    Limbah Organik
                Sampah organik merupakan sampah yang terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam, atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lainnya. Sampah ini dengan mudah diuraika dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan sampah organik, termasuk sampah oraganik misalnya: sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah dan daun (Suprihatin, 1999).
    Berdasarkan sifatnya sampah dibedakan menjadi 2 yaitu :  
    1. Sampah organik - dapat diurai (degradable)
    2. Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable)
    Berdasar perhitungan Bappenas dalam buku infrastruktur Indonesia pada tahun 1995 perkiraan timbulan sampah di Indonesia sebesar 22.5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di kota besar produk sampah perkapita berkisar antara 600-830 gram per hari (Mungkasa, 2004).
    Berdasarkan data tersebut maka kebutuhan TPA pada tahun 1995 seluas 675 ha dan meningkat menjadi 1610 ha di tahun 2020. Kondisi ini akan menjadi masalah besar dengan terbatasnya lahan kosong di kota besar. Menurut data BPS pada tahun 2001 timbulan sampah yang diangkut hanya mencapai 18,3 %, ditimbun 10,46 %, dibuat kompos 3,51 %, dibakar 43,76 % dan lainnya dibuang di pekarangan pinggir sungai atau tanah kosong sebesar 24,24 %.
    Penduduk Jawa Timur sekitar 34. 899.256 juta, rata-rata per kapita menghasilkan limbah sampah 0.0018 m3 maka rata-rata setiap  harinya dihasilkan sampah lebih kurang  63.000 m3, sehingga per tahun dihasilkan sampah sekitar 16.128.000 m3. Kondisi ini akan mengakibatkan lingkungan perairan sungai  dan perkotaan  di Jawa Timur  menurun kualitasnya. Salah satu  indikator penurunan kualitas lingkungan di Jawa Timur dapat dilihat dari kualitas air sungai  yaitu COD, BOD yang berada dibawah baku mutu,  serta nilai estitika dan resiko timbulnya  gangguan  sakit  diare meningkat.
    Tingginya jumlah sampah organik di perkotaan itu menurut Prof Dr Ir Nuni Gofar MS, guru besar ilmu tanah di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang, akibat pola pertanian Indonesia yang memanen dan mengirim seluruh bagian tanaman ke pusat konsumsi di kota. Itu membuat bagian tanaman yang tidak termakan manusia di sortir di pasar, di dapur, dan pusat perbelanjaan di Perkotaan yang membentuk tumpukan sampah organik yang menjadi masalah.

    Bioetanol
    Bio-etanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) di samping Biodiesel. Bio-etanol adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Proses destilasi dapat menghasilkan etanol dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel) perlu lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut fuel grade ethanol (FGE).
    Bahan baku bioetanol adalah adalah sebagai berikut:
    1.      Bahan berpati, berupa singkong atau ubi kayu, ubi jalar, tepung sagu, biji jagung, biji sorgum, gandum, kentang, ganyong, garut, umbi dahlia dan lain-lain.
    2.      Bahan bergula, berupa molasses (tetes tebu), nira tebu, nira kelapa, nila batang sorgum manis, nira aren (enau), nira nipah, gewang, nila lontar dan lain-lain.
    3.      Bahn berselulosa, berupa limbah logging, limbah pertanian seperti jerami padi, ampas tebu, janggel (tongkol) jagung, oggok (limbah tapioka), batang pisang, serbuk gergaji  (grajen) dan lain-lain.
    Proses pemurnian dengan prinsip dehidrasi umumnya dilakukan dengan metode Molecular Sieve, untuk memisahkan air dari senyawa etanol.

    Proses produksi Bio-etanol
    Secara umum, proses pengolahan bahan berpati seperti ubi kayu, jagung dan sagu untuk menghasilkan bio-etanol dilakukan dengan proses urutan. Pertama adalah proses hidrolisis, yakni proses konversi pati menjadi glukosa. Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan a-glikosidik. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas, fraksi terlarut disebut amilosa dan
    fraksi tidak terlarut disebut amilopektin. Amilosa mempunyai struktur lurus dengan ikatan a-(1,4)-D-glikosidik sedangkan amilopektin mempunyai struktur bercabang dengan ikatan a-(1,6)-D-glikosidik sebanyak 4-5% dari berat total.
    Prinsip dari hidrolisis pati pada dasarnya adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa (C6H12O6). Pemutusan rantai polimer tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metode, misalnya secara enzimatis, kimiawi ataupun kombinasi keduanya. Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar dibandingkan hidrolisis secara kimiawi dan fisik dalam hal spesifitas pemutusan rantai polimer pati. Hidrolisis secara kimiawi dan fisik akan memutus rantai polimer secara acak, sedangkan hidrolisis enzimatis akan memutus rantai polimer secara spesifik pada percabangan tertentu.
    Enzim yang digunakan adalah alfa-amilase pada tahap likuifikasi, sedangkan tahap sakarifikasi digunakan enzim glukoamilase. Berdasarkan penelitian, penggunaan a-amilase pada tahap likuifikasi menghasilkan DE tertinggi yaitu 50.83 pada konsentrasi a-amilase 1.75 U/g pati dan waktu likuifikasi 210 menit, dan glukoamilase pada tahap sakarifikasi menghasilkan DE tertinggi yaitu 98.99 pada konsentrasi enzim 0.3 U/g pati dengan waktu sakarifikasi 48 jam.
    Tahap kedua adalah proses fermentasi untuk mengkonversi glukosa (gula) menjadi etanol dan CO2. Fermentasi etanol adalah perubahan 1 mol gula menjadi 2 mol etanol dan 2 mol CO2. Pada proses fermentasi etanol, khamir terutama akan memetabolisme glukosa dan fruktosa membentuk asam piruvat melalui tahapan reaksi pada jalur Embden-Meyerhof-Parnas, sedangkan asam piruvat yang dihasilkan akan didekarboksilasi menjadi asetaldehida yang kemudian mengalami dehidrogenasi menjadi etanol (Amerine et al., 1987).

    METODE PENULISAN

    Sumber Data
    Data dan fakta yang berasal dari tahapan-tahapan pengumpulan data dengan pembacaan secara kritis terhadap ragam literatur (Library research) yang berhubungan dengan tema pembahasan. Data kerusakan lingkungan yang ditampilkan dalam karya tulis ini dapat berupa angka atau pesan. Untuk angka, data yang dipakai adalah data dengan kriteria telah dipublikasikan kepada masyarakat,  melalui literatur yang digunakan berupa buku, surat kabar, buletin, jurnal, majalah maupun internet. Dengan demikian penulis mengelompakkan atau menyeleksi data dan informasi tersebut  berdasarkan kategori atau relevansi dan kemudian selanjutnya ke tahapan analisis dan pengambilan kesimpulan.

    Analisis Data
                Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Menurut Arikunto (1998:25), analisa deskriptif kualitatif adalah analisa yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Untuk menganalisa data yang berupa pesan maka digunakan cara analisis isi (content analysis). Analisis ini  menghubungkan penemuan berupa kriteria atau teori. Analisis yang dilakukan pada analisis isi karya tulis ini menggunakan interactive model (Miles dan Huberman, 1994). Model ini terdiri dari empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data dan (4) penarikan data pengujian atau verifikasi kesimpulan.

    ANALISA DAN SINTESIS
    Analisis Data
    Data yang didapat dari   United States Energy Information Administration, laju konsumsi minyak mentah dan gas alam Indonesia rata-rata bertambah 4,36% dan 6,98% tiap tahunnya. Jika diekstrapolasikan ke tahun 2020, maka Indonesia akan mengkonsumsi minyak mentah dan gas alam sebanyak 2.195.000 barel per hari dan 2.063 BSCF per tahun. Laju konsumsi ini meningkat seiring peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 2,5 % per tahun atau berdasarkan data BPS populas  diperkirakan meningkat dari 237,6 juta pada tahun 2010, menjadi 304 juta pada tahun 2020.
    Berdasarkan hasil studi untuk tahun 2025 di Indonesia setelah dihitung batu bara, gas, dan sumber lain, kebutuhan energi listrik akan meningkat tahun 2000 sebanyak 29 gigawatt, tahun 2025 akan meningkat 100 gigawatt. Melihat semakin meningkatnya kebutuhan energi yang diperlukan alternatif pengganti energi yang ramah lingkungan serta dapat murah sangatlah penting, salah satunya dengan pengolahan sampah.
    Indonesia dalam pengelolaan sampah masih sangat minim, terlihat  bahwa pada penduduk Jawa Timur sekitar 34. 899.256 juta, rata-rata per kapita menghasilkan limbah sampah 0.0018 m3 maka rata-rata setiap  harinya dihasilkan sampah lebih kurang  63.000 m3, sehingga per tahun dihasilkan sampah sekitar 16.128.000 m3.
    Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memprediksi situasi energi di Indonesia pasca 2030 sangat memprihatinkan. Saat itu Indonesia sudah menjadi negara pengimpor energi. Pasca 2030 Indonesia diperkirakan sudah menjadi negara pengimpor energi karena produksi energi Indonesia yang sudah tak mampu lagi memenuhi konsumsi dalam negeri. Pasca 2030, batubara akan menjadi sumber energi utama bagi Indonesia dengan tingkat produksi batubara mencapai sedikitnya 517 juta ton per tahun. Cadangan batubara Indonesia hanya akan mencukupi hingga 20 tahun kemudian sampai 2050.

    Sintesis
    Konversi Limbah organik menjadi  Bioetanol Solusi Integratif Pengganti Bahan    Bakar Minyak
    Krisis energi diperkirakan akan terjadi saat tahun 2030, namun sebenarnya gejala awalnya sudah mulai tampak dalam beberapa tahun ini. Bila hal ini terjadi maka bencana besar akan terjadi pada kehidupan manusia di bumi ini. Konversi Limbah organik menjadi  Bioetanol dipandang merupakan solusi integratif untuk Pengganti Bahan Bakar Minyak, pemikiran  ini   didasarkan asumsi-asumsi yang dikumpulkan dari berbagai pustaka yaitu:
    1. Semakin meningkatnya krisis energi yang dikarenakan penggunaannnya secara terus-menerus dan ketersediaannya yang semakin berkurang.
    2. Energi alternatif yang selama ada ialah bioetanol dibuat dari bahan pangan yang masih dalam kondisi baik, namun hal tersebut memunculkan kekhawatiran akan menipisnya sumber pangan dunia.
    3. Banyaknya sampah yang dihasilkan per-hari pada setiap rumah tangga mengakibatkan terjadinya timbulan sampah di Indonesia sebesar 22.5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di kota besar produk sampah perkapita berkisar antara 600-830 gram per hari.

    Dengan demikian tawaran solusi Konversi Limbah organik sangat tepat dengan menjadikannya  Bioetanol. Konversi limbah organik menjadi bioetanol  diharapkan akan dapat menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan serta solusi krisis energi dimana menjadikannya alternatif baru penghasil bioetanol.  

    Teknik Konversi Limbah Organik Menjadi Bioetanol
    Teknik pembuatan bioetanol menggunakan limbah organik hampir sama dengan pengolahan ubi kayu menjadi etanol, yang membedakan ialah bahan dasar yang memanfaatkan sampah organik yang diolah dengan proses fermentasi hingga menghasilkan  etanol.  Dalam teknik pengolahannya yaitu :
    1. Limbah Rumah Tangga (berasal dari perumahan)
    2. Sortasi
    3. Pengecilan ukuran
    4. Pemberian bakteri asam laktat
    5. Penyimpanan secara anaerobik
    6. Sakarifikasi enzim Alpha amylase & Glukoamilase Crude enzim Aspergillus niger
    7. Fermentasi  30ÂșC
    8. BIOETANOL



    Gambar 1. Skema Model Bioetanol Komunal, Beberapa limbah organik dengan Satu Unit Instalasi Bioetanol dengan Regulator Pembagi Gas

                    Keuntungan dari inovasi model bioetanol komunal :
    1. Biaya pembangunan isntalasi biogas menjadi relatif murah karena ditanggung bersama-sama oleh beberapa penghasil limbah;
    2. Pengelolaan dan perawatan menjadi lebih mudah;
    3. Mampu memperbaiki sanitasi lingkungan akibat sampah  pada kelompok perumahan kecil;
    4. Mampu menyediakan energi pengganti BBM dengan harga murah bagi masyarakat.
    5. Sangat sesuai diterapkan dalam program PNPM ( Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) maupun program pemberdayaan masyarakat lainnya karena program ini dilaksanakan dalam skala komunitas.

    Berdasarkan uraian di atas maka penggunaan bioetanol komunal akan menyelesaikan permasalahan krisis energi  dan mampu menyediakan energi mandiri pada masyarakat. Dengan terbangunnya sistem sanitasi yang baik maka akan mengurangi resiko terjangkitnya penyakit pada hewan ternak akibat kontaminasi limbah organik, disamping itu akan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pengelolaan sampah yang kurang baik sekaligus menyediakan pupuk organik dalam skala komunitas.
    KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan
    Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan :
    a.       Krisis energi yang terjadi setiap tahunnya terus meningkat , dengan adanya alternatif penghasil BBM yang baru dengan cara Konversi  Limbah organik menjadi  Bioetanol dapat mengurangi kebutuhan akan BBM yang berasal dari fosil.
    b.      Pemanfaatan limbah organik  dengan menggunakan tehnik fermentasi diharapkan  akan terus  menjadi bahan  yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil bioetanol.

    Saran
    Berdasarkan kesimpulan di atas dengan ini kami menyarankan bahwa perlu  pembahasan secara teknis dalam memproleh hasil etanol yang baik  dan juga perlu adanya dukungan dan kajian disiplin ilmu lain dalam teknik pelaksanaannya.

    Daftar Puataka

    Anonymous, 2002. Data UNESCO Jumlah sampah di jakarta, Jakarta

    Arikunto, S. (1998). ‘Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek’, Rineka Cipta, Jakarta. pp.25
    Badan Standarisasi Nasional (BSN), 1992, Standar Nasional Indonesia (SNI) 19- 2454-1992 tentang Tata cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta

    Dirjen migas, 2007. Penggunaan bahan bakar minyak di indonesia tahun 2000-2006, Jakarta

    Hartoyo, 2004. Pemanfaatan Pengelolaan Sampah Kota Jawa Timur, Bahan Seminar Nasional Penanganan Sampah Kota, Fakultas Teknik Brawijaya, Malang.

    Hari, S. 2006. Krisis Energi. Kompas 8 September 2006, Jakarta

    Khamid Hafandi, 2009,  Teknologi Tepat Guna Cara Praktis Mengolah Limbah Organik,  Suara merdeka 06 April 2009, http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction =beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=58120 di akses tanggal 7 April 2009
    Kementerian Lingkungan Hidup, 1997, Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jakarta

    Kementerian Lingkungan Hidup, 2008, Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008, tentang Pengelolaan Sampah, Jakarta

    Rama, at al. 2007. Bioetanol Ubi Kayu Bahan Bakar Masa Depan, Agromedia Pustaka. Jakarta.




2 komentar: